Salah satu tujuan manusia menikah adalah untuk membentuk rumah tangga yang bahagia dan diberkati Allah.Salah satu sumber kebahagiaan dan keberkatan berumah tangga adalah anak yang saleh.Siapa saja tentu mendambakan anak yang saleh,yaitu anak yang patuh kepada orang tua dan taat beragama yang didasari oleh keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.Namun memiliki anak yang saleh bukanlah perkara muda,yang hanya bisa diusahakan dengan berdoa, melainkan melalui usaha nyata yang dimulai sejak dalam kandungan sampai menginjak dewasa. Oleh karena itu peran orang tua dalam mendidik anak amat lah penting dalam mengikuti perkembangan anak.
Nah,pada kesempatan ini saya hadir
dihadapan pembaca untuk berbagi informasi dan pengalaman dalam mendidik
anak,semoga informasi yang singkat ini bisa bermanfaat bagi segenap pembaca
khususnya bagi keluarga penulis.
Bagi pembaca yang
berprofesi guru tentu tidak menjadi masalah dalam mendidik anaknya karena
mereka telah dibekali dasar-dasar kependidikan ataupun psikologi perkembangan
anak.Cuma,yang menjadi masalah adalah sulitnya mempraktekkan teori yang telah
kita peroleh dibangku pendidikan,sehingga dalam kenyataannya banyak di antara
kita yang berprofesi pendidik tidak sanggup mendidik anaknya sebagaimana yang
diharapkan dalam tujuan pendidikan,bahkan di antaranya ada yang anak-anaknya
sukses dalam berbagai bentuk problematika anak seperti pergaulan
bebas,kenakalan remaja,narkoba,minuman keras,pencurian,dan sebagainya.
Ada beberapa hal yang perlu
dipahami oleh sebuah rumah tangga yang dianugerahi Allah berupa anak,antara
lain:
1.
Mensyukuri nikmat Allah yang telah
memberi anak,karena tidak semua yang berkeluarga itu dianugerahi anak,atau ada
yang dianugerahi namun cuma satu sedangkan kita sesuai keinginan.Wujud
mensukurinya adalah merawat dengan sebaik-baiknya.
2.
Memahami arti seorang anak dalam
rumah tangga.Dalam Alquran, anak dapat dikelompokkan kepada lima tipologi,
yaitu anak sebagai ujian (QS. Al-Anfal:28), anak sebagai perhiasan hidup dunia
(QS. Al-Kahfi:46), anak sebagai cahaya mata (QS. Al-Furqan :74), anak sebagai
musuh (QS. At-Taghabun:14) dan anak sebagai amanah (QS.At-Tahrim:6).
3.
Menyadari bahwa anak adalah
titipan Allah sebagai amanah bagi orang tua.Dan amanah itu berat,karena kelak
akan diopertanggungjawabkan di negeri akhirat.Kegagalan kita mengembang amanah
ini maka berakibat anak akan mengantar kita ke dalam neraka.Sebaliknya
keberhasilan dalam melaksanakan amanah ini maka suatu keberuntungan bagi orang
tua,karena kelak anak akan mengantarnya masuk surga.
Sehubungan
dengan arti anak sebagai amanah dari Allah.Maka dalam Al Quran Allah telah
memberi peringatan kepada para orang tua, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan
batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras; mereka tidak
mendurhakai Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim :6).Dan
Rasulullah SAW juga telah menyampaikan peringatan, “Setiap kamu adalah pemimpin dan
setiap kamu bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Seorang suami adalah
pemimpin di dalam rumah tangganya dan dia bertanggung jawab terhadap
keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia
bertanggung jawab terhadap.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih).Dalam hadis lain
dikatakan: “Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang tidak akan diajak
berbicara pada hari kiamat, tidak disucikan dan tidak dilihat.” Lalu beliau
ditanya: “Siapa mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Anak yang
berlepas diri dari orangtuanya dan membencinya serta orangtua yang berlepas
diri dari anaknya.” (HR. Ahmad dan Thabrani).
Begitu berat yang namanya amanah,maka modal utama orang tua dalam mendidik anaknya adalah kesadaran bahwa anak adalah amanah yang berat kepada kedua orang ta.Oleh karena itu,orang tua janganlah melalaikannya,jangan melepaskannya atau melepaskan diri darinya.
Begitu berat yang namanya amanah,maka modal utama orang tua dalam mendidik anaknya adalah kesadaran bahwa anak adalah amanah yang berat kepada kedua orang ta.Oleh karena itu,orang tua janganlah melalaikannya,jangan melepaskannya atau melepaskan diri darinya.
Ditambahkan bahwa seorang ulama, Imam Ibn Qayyim al-Jauziyah pernah
mengatakan, “Barang siapa yang dengan sengaja tidak mengajarkan sesuatu yang
bermanfaat bagi anaknya dan menelantarkannya begitu saja, berarti dia telah
melakukan suatu kejahatan yang sangat besar. Kerusakan pada diri anak
kebanyakan datang dari sisi orangtua yang meninggalkan mereka dan tidak
mengajarkan kewajiban-kewajiban dalam agama termasuk sunnah-sunnahnya.” Untuk
itu,marilah kita bersama-sama menyadari bahwa anak adalah amanah.Terhadap
amanah yang diberikan Allah maka teuslah dengan melakukan akikah dan memohonlah
kepada Allah agar menjaga anak dan membimbingnya ke jalan yang benar.Dan bagi
yang belum beranak maka berdoalah “Wahai Tuhanku, anugerahkanlah
kepadaku keturunan yang baik dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar
dan Mengabulkan do’a.” (QS. Ali Imran: 38).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar